Mitos-mitos seks pada remaja

Oleh dr. Putri Mayuni

Staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana bagian Andrologi dan Seksologi

KaDiv Outreach KYC (KISARA Youth Clinic)

Bagi beberapa orang tua, pembicaraan tentang seks bagi para remaja mungkin masih menjadi hal yang  tabu dan tidak layak menjadi bahan diskusi. Tapi berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini memungkinkan para remaja, yang cenderung lebih ‘melek’ teknologi, untuk mengakses berbagai informasi yang berhubungan dengan seksualitas. Seringkali, bebasnya informasi yang ada di berbagai media kadangkala tidak bisa dijamin kebenarannya, dan remaja yang dasar pemikirannya belum matang sangat mudah menyerap dan dipengaruhi oleh berbagai informasi tanpa proses penyaringan.

Beberapa pembicaraan seks yang sering diyakini oleh remaja sebagai sebuah kebenaran seringkali menjadi hal yang tidak selalu benar dan menyesatkan bagi pengetahuan remaja tentang kesehatan seksualitas dan reproduksi.

1. Cinta = Seks

Pacaran ala remaja adalah ajang untuk mulai mengenali lawan jenisnya. Ungkapan rasa cinta dan sayang seringkali direfleksikan dengan melakukan hubungan seks. Dengan kata lain, jika benar-benar mencintai pacarnya, maka dia harus membuktikannya dengan melakukan hubungan seks.

Faktanya, banyak remaja yang menggunakan alasan ini hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Dan setelah mendapatkan apa yang mereka mau, dengan mudah mereka bisa putus dengan pacarnya. Dan seringkali pihak yang dirugikan adalah remaja perempuan, karena efek kehamilan yang tidak diinginkan akibat hubungan seks ini lebih banyak ditanggung oleh pihak perempuan. Rasa cinta dan sayang terhadap pacar bisa ditunjukkan dengan cara lain yang tidak merugikan salah satu pihak, antara lain saling mendukung dalam prestasi akademik, bersama-sama ikut dalam sebuah organisasi.

2. Hubungan seks dengan perempuan yang belum pernah menstruasi tidak mungkin mengakibatkan kehamilan

Faktanya, kehamilan bisa terjadi saat adanya pelepasan sel telur dan adanya sel sperma yang masuk disaat yang bersamaan, sehingga terjadi pembuahan. Pelepasan sel telur yang disebut sebagai ovulasi terjadi sebelum menstruasi, bila saat ovulasi tidak terjadi pembuahan barulah akan terjadi menstruasi. Sehingga bukan tidak mungkin, seorang perempuan yang saat ovulasi pertama nya langsung mengalami pembuahan akan mengalami kehamilan tanpa pernah mengalami menstruasi sebelumnya.

3. Perempuan yang masih perawan pasti mengeluarkan darah saat pertama kali melakukan hubungan seksual

Mitos yang satu ini sangat berakar di masyarakat kita, sehingga kadangkala menimbulkan keributan atau pertengkaran antar pasangan.

Faktanya : Darah yang terjadi saat berhubungan seksual kebanyakan berasal dari adanya perlukaan baik pada selaput dara (hymen) ataupun pada dinding vagina. Normalnya, bila vagina sudah benar-benar siap untuk sebuah hubungan seksual (intercourse), maka vagina akan menjadi basah untuk membantu proses hubungan seksual tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh cukup atau tidaknya rangsangan yang diterimanya saat pemanasan atau foreplay. Basahnya vagina ini berguna sebagai pelumas yang mengurangi kejadian lecet saat berhubungan, dan tentu saja jika tidak ada lecet atau luka, maka tidak akan ada darah. Selain itu, selaput dara setiap perempuan tidak sama. Ada yang memang memiliki selaput dara yang elastis dan tipis, sehingga tidak terjadi perlukaan saat pertama kali berhubungan seksual. Robeknya selaput dara ini juga tidak hanya karena hubungan seksual, tapi bisa juga karena trauma olahraga seperti bersepeda, berkuda, dan sebagainya.

4. Laki-laki yang sering melakukan masturbasi lututnya kopong

Faktanya : Tidak ada hubungan antara masturbasi dengan kepadatan lutut. Kepadatan tulang dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi.

5. Perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual bisa dilihat dari bentuk fisiknya.

Mitos ini banyak merugikan kaum perempuan yang kebetulan bentuk fisiknya sesuai dengan kriteria orang yang dikatakan sudah pernah berhubungan seksual seperti, bokong yang turun, cara jalan yang sedikit melebar .

Faktanya : Bentuk fisik masing-masing individu ditentukan oleh gen-gen yang mereka miliki dan berhubungan seksual tidak merubah bentuk fisik seseorang.

6. Loncat-loncat setelah melakukan hubungan seksual akan mencegah kehamilan

Loncat-loncat disini diasumsikan dapat mengeluarkan sperma yang sempat masuk ke dalam vagina setelah berhubungan seksual.

Faktanya : sperma yang masuk ke dalam vagina akan mencari sel telur yang siap dibuahi, sehingga tidak mudah untuk mengeluarkan sperma kembali hanya dengan loncat-loncat. Kehamilan masih bisa terjadi.

7. Sering masturbasi mengakibatkan mandul

Masturbasi adalah upaya mencapai kepuasan seksual yang dilakukan sendiri (tanpa pasangan). Secara medis, masturbasi tidak mengganggu kesehatan fisik selama dilakukan dengan cara normal. Artinya, tidak terlalu keras atau menggunakan alat-alat yang dapat melukai alat kelamin.

8. Perempuan yang tangannya berambut lebat memiliki nafsu seksual yang besar

Mitos ini sering membuat para remaja perempuan yang memiliki intensitas rambut tangan lebih banyak menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Faktanya: Nafsu seks dipengaruhi oleh adanya hormone testosterone. Hormone ini juga berpengaruh pada intensitas rambut di luar kepala, bila ada reseptor (zat spesifik yang memungkinkan hormone menimbulkan efek) pada area tersebut. Perempuan yang memiliki rambut lebih lebat bukan berarti hormone testosterone nya lebih tinggi, tapi karena memiliki reseptor hormone lebih banyak pada daerah tangan.

Mitos-mitos diatas sangat sering menjadi bisik-bisik di lingkungan remaja. Remaja menjadi mudah percaya dengan ‘kata’ orang ini, karena memang pengetahuan tentang seksualitasnya sangat kurang. Oleh karena itu, pendidikan seks merupakan sesuatu yang penting bagi para remaja agar tidak lagi melakukan kesalahan karena apa yang diyakini selama ini ternyata tidak benar.

Perkaya diri dengan pengetahuan yang benar sebagai bekal untuk menjadi individu yang lebih baik lagi.

VIVA REMAJA !! KITA SAYANG REMAJA :)

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>